DAMPAK NEGATIF PENGGUNAAN POLIMER DAN PENANGANANNYA

Berikut pembahasan dampak negatif penggunaan polimer beserta penanganannya. Meskipun polimer meberikan banyak manfaat, namun juga memberikan dampak negatif.

sampah plastik sebagai dampak negatif penggunaan polimerKemajuan di bidang polimer telah menawarkan berbagai keuntungan sekaligus bencana bagi kehidupan manusia (dampak negatif polimer). Plastik sebagai salah satu polimer sintesis kini muncul dalam berbagai jenis produk mulai dari kantong plastik, alat – alat rumah tangga, sampai komponen berteknologi tinggi, seperti barang elektronik, otomotif, dan pesawat terbang. Plastik telah menggantikan barang – barang dari logam, gelas, kertas, kayu, kapas, dan wol. Bahan ini banyak digunakan karena memiliki sifat unggul, seperti ringan, transparan, tahan air, elastis, dan harganya relatif murah.

Keadaan tersebut ternyata juga menimbulkan masalah (dampak polimer) yang cukup serius bagi lingkungan. Dilihat dari jenisnya, limbah plastik merupakan komponen terbanyak ketiga yang dibuang setelah limbah organik dan kertas. Meskipun dari segi jumlah tidak tergolong banyak, limbah plastik merupakan masalah lingkungan terbesar karena materialnya tidak mudah diurai oleh alam, baik oleh curah hujan, panas matahari, maupun mikroba tanah. Sampah plastik membutuhkan waktu 200 – 400 tahun untuk dapat hancur. Itulah dampak negatif penggunaan polimer plastik.

Dengan makin meningkatnya kebutuhan barang plastik, limbah plastik akan menimbulkan masalah yang makin pelik. Plastik bersifat ringan dan akan cenderung terangkat ke permukaan sehingga mengotori lingkungan sekitar. Jika tercecer di badan air, plastik cenderung menyumbat aliran dan mengakibatkan banjir. Pembakaran plastik akan menghasilkan asap dan zat – zat beracun, misalnya dioksin, yang membahayakan lingkungan serta manusia. Dioksin dapat menimbulkan berbagai jenis kanker, seperti leukimia, kanker kelenjar getah bening (limpa), dan endometriosis pada perempuan.

Setiap tahun, sampah plastik semakin meningkat jumlahnya, sehingga harus dicari cara untuk mengatasi dampak negatif penggunaan polimer plastik ini. Saat ini, berbagai negara berusaha mencari alternatif untuk mengurangi sampah plastik tersebut. Berikut ini beberapa metode penanggulangan sampah plastik.

1. Pengurangan sumber

Sumber sampah plastik dikurangi dengan cara membatasi penggunaan bahan plastik. Sebagai contoh, ketebalan dinding wadah plastik telah dikurangani beberapa tahun belakangan ini dan beberapa negara Eropa telah melarang adanya kemasan plastik yang tidak dapat di daur ulang.

2. Plastik yang dapat diuraikan mikroba

Plastik nonbiodegradabel adalah plastik yang tidak dapat diuraikan oleh bakteri pengurai karena kestabilan molekulnya. Para peneliti telah mengembangkan plastik yang dapat diuraikan oleh bakteri (biodegradabel) atau terurai apabila terkena sinar matahari. Misalnya, dengan menyisipkan molekul selulosa ke dalam resin plastik selama proses produksi. Ketika plastik tidak digunakan lagi, bakteri akan memakan selulosa sehingga molekul polimer terpecah. Hal ini memungkinkan plastik terurai.

Para peneliti juga mencari cara untuk membuat plastik lebih mudah terurai karena pengaruh paparan sinar matahari. Paparan sinar ultraviolet matahari dalam waktu lama akan menyebabkan banyak molekul – molekul plastik menjadi getas dan pelan – pelan terlepas. Lastik ini dibuat agar terdegradasi lebih cepat dalam sinar matahari, tetapi tidak terlalu cepat agar tidak langsung terurai ketika masih digunakan.

3. Pembakaran

Sebagian sampah plastik dapat dikurangi jumlahnya dengan melakukan pembakaran. Namun, pembakaran sampah akan menghasilkan gas beracun yang akan membahayakan kelangsungan kehidupan. Oleh karena itu, untuk melakukan proses ini harus diatur secara ketat oleh pemerintah dan menggunakan alat khusus.

4. Daur ulang plastik

Hampir semua plastik dapat didaur ulang. Termolisis dapat dilelehkan ulang dan dapat dibuat menjadi produk baru. Plastik termoset dapat dihancurkan, kemudian digunakan sebagai pengisi dalam bahan termoplas.

Ada beberapa cara mendaur ulang plastik, diantaranya ialaha proses depolimerisasi yang menggunakan panas dan bahan kimia tertentu untuk mengurai plastik menajdi komponen yang lebih sederhana sehingga dapat digunakan kembali. Proses lain ialah pirolisis, yaitu dengan cara menguapkan dan mengembunkan plastik, baik termoplas maupun termoset menjadi cairan hidrokarbon.

Pada proses daur ulang, plastik harus dipisahkan menurut jenisnya. Apabila plastik tidak dipisahkan berdasarkan jenisnya, plastik hasil daur ulang tidak terlalu bagus sehingga akan mengurangi nilai jual plastik daur ulang dan berpengaruh buruk pada kualitas plastik tersebut.

Untuk alasan kesehatan, plastik daur ulang jarang dibuat menjadi tempat makanan, tetapi menjadi barang seperti karpet, botol oli kendaraan, keranjang sampah, kemasan sabun, dan serat pakaian.

Demikian tulisan mengenai dampak negatif penggunaan polimer dan penanganannya. Semoga bermanfaat….

Sumber:

Purba, M. (2007). KIMIA Untuk SMA Kelas XII Semester 2. Erlangga: Jakarta.

Susilowati, E.(2012). KIMIA: Untuk Kelas XII SMA dan MA. Global: Solo.

loading...
loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *