KARET VULKANISIR DAN KARET ALAM

Karet vulkanisir pertama kali ditemukan oleh Charles Goodyear pada tahun 1839 dari pengolahan karet alam. (Vulkan; Dewa api bangsa Romawi). Karet alam memiliki sifat – sifat sebagai berikut: jika dalam kondisi panas, meleleh dan lentur, sebaliknya jika dingin mengeras dan rapuh. Karet alam akan berubah menjadi karet vulkanisir (stabil) jika dipanaskan dan diisi dengan S8 dan bahan – bahan aditif lain. Karet vulkanisir tidak meleleh jika panas dan tidak keras maupun tidak rapuh jika dingin

Karet alam → Karet vulkanisir (dengan penambahan S8 dan zat aditif lain yang disertai pemanasan)

Pada tahun 1953, Herman Staudinger, merumuskan struktur makromolekul untuk karet alam dan mendapat hadiah Nobel. Karet alam adalah polimer dari monomer isoprena (2-metilbuta-1,3-diena) sehingga disebut sebagai poliisoprena atau poli(2-metilbuta-1,3-diena). Polimer ini memiliki dua bentuk struktur, yaitu cis dan trans.

karet vulkanisir - 2-metilbuta-1,3-diena

Karet alam merupakan polimer bentuk cis, sedangkan Gutta percha (getah percha = lateks alam) merupakan polimer bentuk trans. Karet alam bersifat lunak dan seperti batang, sedangkan gutta percha bersifat keras dan rapuh.

Karet alam : cis-poli(2-metilbuta-1,3-diena)

karet vulkanisir - getah perca

Gutta percha : trans-poli(2-metilbuta-1,3-diena)

karet vulkanisir - karet alam

Karet alam meleleh jika dipanaskan, karena rantai polimer dapat menyelinap diantara rantai yang lain. Pemanasan menyebabkan terjadinya transformasi cis menjadi trans yang begitu luas.

Karet vulkanisir tidak mudah terkena oleh serangan kimia karena kurangnya ikatan rangkap C=C. Karet vulkanisir mengandung ikatan silang atom S sebanyak 1-8.

karet vulkanisir

Jika karet vulkanisir dipanaskan, rantai polimer masih tetap diikat oleh ikatan silang belerang. Oleh karena itu,

  1. Rantai polimer tidak dapat terselip di antara rantai – rantai yang lain sehingga tidak meleleh jika dipanaskan.
  2. Perubahan cis ke trans tidak terjadi, sehingga tidak menjadi rapuh jika didinginkan.

Sifat – sifat karet vulkanisir bergantung pada:

  1. Banyaknya ikatan silang yang terbentuk di antara rantai polimer.
  2. Jumlah atom S dalam ikatan silang.

Jika karet memiliki sedikit ikatan silang atau memiliki ikatan silang dengan atom S yang lebih banyak, karet tersebut akan lebih lunak, lebih memanjang, dan lebih elastis. Sebaliknya, jika karet memiliki ikatan silang dengan atom S yang lebih sedikit, karet tersebut akan lebih keras, kurang memanjang dan kurang elastis.

Demikian tulisan mengenai karet vulkanisir. Semoga bermanfaat. Silahkan berkomentar jika ada masukan ataupun saran. Terima kasih.

Sumber:

Watoni, A.H., Juniastri,M . (2015). Buku Siswa KIMIA untuk SMA/MA Kelas XII kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu – Ilmu Alam. Yrama Widya: Bandung.

loading...
loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *