SENYAWA HALOGEN

Halogen (kecuali F) dapat membentuk senyawa halogen dengan bilangan oksidasi yang bervariasi dari -1 sampai dengan +7. Senyawa halogen dengan bilangan oksidasi -1 disebut dengan halida, sedangkan senyawa halogen dengan bilangan oksidasi +1 sampai +7 disebut dengan senyawa oksihalogen, dan senyawa halogen dengan oksigen disebut dengan oksida halogen.

SENYAWA HALOGEN

a. Senyawa antarhalogen

Halogen yang satu dengan yang lain dapat membentuk senyawa kovalen dengan rumus umum XY2 dengan X adalah halogen yang lebih elektropositif dan Y halogen yang lebih elektronegatif, serta n merupakan bilangan 1, 3, 5 dan 7.

Contoh;

IF7, ICl3, ClF3, ICl5, dan ClF

Senyawa antarhalogen mudah terurai menjadi atom-atom halogen yang reaktif sehingga senyawa halogen serign dimanfaatkan sebagai oksidator kuat.

b. Senyawa Oksida halogen

Semua halogen dapat membentuk senyawa oksida. Fluorin dapat membentuk oksida OF2 dan O2F2 yang dikenal dengan oksigen fluorida. Senyawa O2F2 dibuat dengan mengalirkan gas F2secara cepat melalui larutan NaOH 2%. Senyawa O2F2 merupakan zat padat berwarna kuning jingga yang digunakan sebagai bahan bakar roket.

Senyawa oksida klorin lebih banyak jenisnya, yaitu Cl2O, Cl2O3, ClO2, Cl2O4, Cl2O6,d an Cl2O7. Senyawa oksida klorin tidak stabil dan cenderung meledak. Senyawa ClO2 merupakan oksidator sangat kuat yang digunakan untuk pemutih bubur kertas (pulp). Senyawa ClO2 dibuat sesaat sebelum digunakan, dengan reaksi:

2NaClO3 + SO2 + H2SO4  → 2ClO2 + 2NaHSO4

Iodin dapat membentuk I2O5  dengan memanaskan asam iodat pada suhu 240oC dengan reaksi:

2HIO3 ↔ I2O5 + H2O

c. Senyawa Halida

Senyawa halida merupakan senyawa halogen dengan bilangan oksidasi -1, dan merupakan senyawa yang paling banyak diantara senyawa halogen. Secara umum, senyawa halida dapat dikelompokan menjadi senyawa hidroge halida dan garam halida.

1. Senyawa Hidrogen Halida

Senyawa hidrogen halida (HX) pada suhu kamar merupakan gas yang mudah larut dalamair. Larutannya dalam air bersifat asam , sehingga sering disebut asam halida. SenyawaHF dikelompokan sebagai asam lemah, sedangkan HClHCl, HBr, dan HI merupakan asam kuat. Kekuatan asamnya meningkat dari HF ke HI. Peningkatan kekuatan asam ini berhubungan dengan jari-jari atomnya yang semakin panjang sehingga kekuatan ikatan H-X semakin llemah. Semakin lemahnya kekuatan tersebut mengakibatkan semakin mudahnya ion H+ terlepas jika berinteraksi dengan H2O dalam larutan.

Titik didih dan titik leleh HX semakin besar dari HCl ke HI. Hal ini disebabkan semakin kuatnya gaya van der Waals. Titik didih HF paling tinggi diantara hidrogen halida yang lain karena adanya ikatan hidrogen pada HF.

2. Garam Halida

Garam halida dapat terbentuk dari interaksi langsung antara logam dengan halogen. Semua garam halida mudah larut dalam air, kecuali garam halida dari perak (I), timbal (II), raksa (I), dan tembaga (I).

senyawa halogen
endapan timbal (II) Iodida

Warna endapan perak halida dan timbal (II) halida dari reaksi ion halida dengan ion perak da ion timbal (II) digunakan untuk identifikasi adanya ion halida di dalam suatu larutan.

Endapan perak klorida dapat larut dalam amonia encer, sedangkan perak bromida tidak larut dalam amonia encer tetapi larut dalam amonia pekat. Sementara itu, perak iodida tidak dapat larut dalam amonia encer dan pekat. Endapan perak klorida dan perak bromida dapat larut dalam amonia karena membentuk ion kompleks dengan reaksi sebagai berikut.

AgCl(s) + 2NH3(aq) → [Ag(NH3)2]+(aq) + Cl(aq)

Identifikasi adanya ion halida dapat dilakukan dengan menambahkan larutan Pb2+ (misalnya Pb(NO3)2). Jika terbentuk endapan putih,kemungkinan ion halidanya adalah F atau Cl. Akan tetapi, jika endapannya berwarnaa kuning berarti ion halidanya adalah Br atau I. Jika tidak terbentuk endapaan berarti tidak ada ion halida di dalam larutan.

Untuk membedakan ion F dan ion Cl, maka ke dalam larutan ditambahkan ion Ag+ (misalnya AgNO3). Jika tidak terbentuk endapan, berarti ion halidanya adalah F dan jika terbentuk endapan putih, berarti ion halidanya adalah Cl. Untuk membedakan ion Br dan I, maka larutan direaksikan dengan Ag+, endapan yang terbentuk didekantasi, kemudian ditambahkan NH3 pekat. Jika larut, berarti yang ada dalam larutan adalah ion Br dan jika tidak larut, berarti yang ada dalam larutan adalah ion I.

Halida padat (kecuali fluorida) dapat dioksidasi oleh oksidator kuat (misalnya MnO2, KMnO4, atau K2Cr2O7 dalam H2SO4 pekat) menghasilkan gas halogen.

Contoh:

  • 2NaCl(s) + MnO2(s) + 2H2SO4(l) → Na2SO4(s) + MnSO4(s) + 2H2O(l) + Cl2(g)
  • 10KI(s) + 2KMnO4(s) + 8H2SO4(l) → 6K2SO4(s) + 2MnSO4(s) + 2H2O(l) + 5I2(g)
  • 6KBr(s) + K2Cr2O7(s)+ 7H2SO4(l) → 4K2SO4(s) + Cr2(SO4)3(s) + 7H2O(l) + 3Br2(g)

Reaksi-reaksi di atas digunakan untuk membuat gas halogen di laboratorium. Bromida dan iodida dapaat teroksidasi sebagian oleh asam kuat oksidator, misalnya H2SO4 pekat, sedangkan fluorida dan klorida tidak dapat teroksidasi.

  • KI(s) + H2SO4(l) → KHSO4(s) + HI(g)
  • 2HI(g) + H2SO4(l) → SO2(g) + I2(g) + H2O(l)
  • CaF2(s) + H2SO4(l) → CaSO4(s) + 2HF(g)

Halida padat dapat digunakan untuk membuat gas hidrogen halida (HX) jika direaksikan dengan asam lemah pekat.

MX(s) + H3PO4(l) → MH2PO4(s) + HX(g)

d. Senyawa oksihalogen

Selain membentuk oksida dan halida, unsur-unsur halogen dapat membentuk senyawa-senyawa oksihalogen. Garam oksihalogen lebih stabil daripada asamnya. Asam oksihalogen sedikit larut dalam air. Beberapa senyawa oksihalogen yang dikenal terdapat pada tabel di bawah.

Asam oksi mempunyai rumus struktur umum.

H-O-X

Tabel, senyawa oksihalogen yang dikenal

Bilangan oksidasi Rumus umum Nama Rumus Kimia
Klorin Bromin Iodin
-1 X halida Cl Br I
0 X2 Halogen Cl2 Br2 I2
+1 XO Hipohalit ClO BrO IO
+3 XO2 Halit ClO2
+5 XO3 Halat ClO3 BrO3 IO3
+7 XO4 Perhalat ClO4 BrO4

Kekuatan asam oksi halogen ditentukan oleh kekuataan ikatan H-O dan ikatan O-X. Jika ikata O-X lemah,ikatan H-O kuat dan sebaliknya jika ikatann O-X kuat, maka ikatan H-O lemah. Semakin lemah ikatan H-O, semakin mudah asam tersebut terionisasi, dan berarti semakin kuat asamnya. Kekuatan ikatan O-X dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu keelektronegatifan dari X dan banyak sedikitnya atomoksigen yang mengelilingi X.

Semua halogen dapat membentuk senyawa oksihalogen, kecuali fluorin. Larutan ion oksihalogen dapat diperoleh dengan mereaksikan halogen dengan basa.

  • 3X2(g) + 6OH(aq) → 5X(aq) + XO3(aq) + 3H2O(l)
  • X2(g) + 2OH(aq) → X(aq) + XO(aq) + H2O(l)

Dalam suasana asam, senyawa oksi merupakan oksidator kuat. Perubahan yang terjadi jika senyawa oksihhalogen bertindak sebagai oksidator adalah:

XOn(aq)  +2nH+(aq) 2ne → X(aq) + nH2O(l)

Reaksi antara oksihalogen dengan halida dapat membebaskan halogen.

Contoh:

  • ClO3(aq) + 6I(aq) + 6H+(aq) → Cl(aq)+ 3I2(g) + 3H2O(l)
  • IO3(aq) + 5I(aq) + 6H+(aq) → 3I2(g) + 3H2O(l)

Reaksi-reaksi yang membebaskan I2 dimanfaatkan untuk penentuan kadar zat dengan cara titrasi yang dikenal dengan titrasi iodometri. Dal titrasi tersebut, I2 yang dibebaskna dari suatu reaksi dititrasi dengan larutan standar N2S2O3 dan indikator yang digunakan adalam amilum.

I2(g) + 2S2O32-(aq) → 2I(aq) + S4O62-(aq)

Amilum dengan I2 akan memberikan warna biru sampai ungu. Hilangnya warna biru menandakan bahwa I2 telah habis bereaksi.

Demikian ulasan mengenai Senyawa Halogen. Jika ada masukan, saran ataupun pertanyaan silahkan berkomentar ya. Semoga bermanfaat…..

Sumber:

Sudarmo, U.(2015). KIMIA: Untuk SMA/MA Kelas XII. Erlangga: Jakarta

loading...
loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *