SIFAT GAS MULIA

Untuk membahas sifat gas mulia, kita akan melihat dari dua aspek, yaitu sifat fisika gas mulia dan sifat kimia gas mulia. Sifat fisika gas mulia akan dijelaskan menggunakan data sifat atomik dan struktur unsur gas mulia, sedangkan sifat kimianya menggunakan data sifat atomik dan konfigurasi gas mulia tersebut.

SIFAT GAS MULIA

Gambar. neon, salah satu unsur gas mulia pada pembahasan sifat gas mulia
Gambar. neon, salah satu unsur gas mulia

 

A. SIFAT FISIKA GAS MULIA

Untuk dapat mempelajari kecenderungan sifat fisika gas mulia, simak data sifat atomik dan struktur unsur-nya.

1. Sifat Atomik Gas Mulia

Tabel berikut memuat sifat-sifat atomik unsur-unsur gas mulia

Unsur Jari-jari kovalen (pm) Energi Ionisasi (kJ/mol) Kelektronegatifan Bilangan oksidasi
Helium 50 2.640 0
Neon 71 2.080 0
Argon 98 1.520 0
Kripton 112 1.350 3,1 0; 2
Xenon 131 1.170 2,4 0; 2; 4; 6; 8
Radon 145 1.040 2,1 0; 4

Dari tabel ini, terlihat jelas adanya suatu keteraturan sifat gas mulia dari He ke Rn.

  • Nilai jari-jari atom (jari-jari kovalen) bertambah dari He ke Rn.
  • Nilai energi ionisasi berkurang dari He ke Rn
  • Nilai Kelektronegatifan He, Ne, dan Ar tidak ada, sedangkan nilai kelektronegatifan berkurang dari Kr ke Rn
  • Nilai bilangan oksidasi He, Ne, dan Ar adalah nol, sedangkan Kr, Xe, dan Rn memiliki bilangan oksidasi.

 

2. Struktur unsur Gas Mulia

Unsur gas mulia berada sebagai atom tunggal (monoatomik) yang terikat satu sama lainnya oleh gaya London. Karena gaya London pada gas mulia bekerja pada atom-atom tunggal, maka faktor yang mempengaruhi kekuatan gaya London adalah ukuran atom berupa jari-jari atom. Oleh karena jari-jari atom bertambah dari He ke Rn, maka gaya London dari He ke Rn juga semakin kuat.

Selanjutnya, simak bagaimana sifat atomik dan struktur unsur akan mendasari kecenderungan sifat-sifat fisika gas mulia, yakni kerapatan, titik leleh, titik didih, perubahan entalpi peleburan (∆Hfus), perubahan ental pipenguapan (∆Hv), dan daya hantar panas.

Unsur Kerapatan (kg/m3) Titik leleh (oC) Titik didih (oC) ∆Hfus(kJ/mol) ∆Hv (kJ/mol) Daya hantar panas (W.cmK)
Helium 0,179 -272 -269 0,0845 0,001520
Neon 0,900 -249 -246 0,332 1,73 0,000493
Argon 1,78 -189 -186 1,19 6,45 0,000180
Kripton 3,71 -157 -152 1,64 9,03 0,000095
Xenon 5,88 -112 -107 2,30 12.64 0,000057
Radon 9,73 -71 -61,8 2,89 16,4 0,000036

 

Dari data sifat gas mulia di atas, kita dapat melihat adanya keteraturan berikut:

Kerapatan bertambah dari He ke Rn

Nilai kerapatan gas mulia dipengaruhi oleh massa atom, jari-jari atom, dan gaya London. Nilai kerapatan semakin besar dengan pertambahan massa atom dan kekuatan gaya London, dan sebaliknya semakin kecil dengan pertambahan jari-jari atom. Karena nilai kerapatan gas mulia bertambah dari He ke Rn, maka kenaikan massa atom dan kekuatan gaya London dari He ke Rn lebih dominan dibandingkan kenaikan jari-jari atom.

Titik leleh dan entalpi peleburan bertambah dari He ke Rn

Hal ini dikarenakan kekuatan gaya London bertambah dari He ke Rn sehingga atom-atom gas mulia semakin sulit lepas. Dibutuhkan energi, dalam hal ini suhu yang semakin besar untuk mengatasi gaya London yang semakin kuat tersebut.

Titik didih dan Entalpi penguapan bertambah dari He ke Rn

Hal ini dikarenakan kekuatan gaya London bertambah dari He ke Rn sehingga atom-atom gas mulia semakin sulit lepas. Dibutuhkan energi, dalam hal ini suhu yang semakin besar untuk mengatasi gaya London yang semakin kuat tersebut.

Daya hantar panas berkurang dari He ke Rn

Hal ini dikarenakan kekuatan gaya London bertambah dari He ke Rn. Dengan kata lain, partikel relatif semakin sulit bergerak sehingga energi dalam hal ini panas akan semakin sulit pula untuk ditransfer.

 

B. SIFAT KIMIA GAS MULIA

Sifat kimia gas mulia atau kereaktifan gas mulia akan dibahas menggunakan data sifat atomik dan konfigurasi elektron gas mulia.

1. Sifat atomik gas mulia

Simak data sifat atomik gas mulia tersebut dipembahasan sifat fisika gas mulia di atas.

 

2. Konfigurasi elektron gas mulia

Simak konfigurasi elektron gas mulia berikut:

Periode Lambang Konfigurasi elektron gas mulia
1 He 1s 2
2 Ne [2He] 2s2 2p6
3 Ar [10Ne] 3s2 3p6
4 Kr [18Ar] 4s2 3d10 4p6
5 Xe [36Kr] 5s2 4d10  5p6
6 Rn [54Xe] 6s2  4f14 5d10 6p6

 

Gas mulia memiliki konfigurasi elektron yang sudah stabil. Oleh karena itu, sifat gas mulia cenderung sulit bereaksi atau tidak reaktif. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa di alam, gas mulia selalu berada sebagai atom tunggal atau monoatomik. Namun demikian, para ahli telah berhasil mensintesis senyawa gas mulia pada periode 3 ke atas, yakni Ar, Xe, Kr dan Rn. Hal ini terkait dengan adanya subkulit d yang belum terisi pada periode 3 ke atas.

Bagaimana kecenderungan kerekatifan gas mulia dari Ar ke Rn?

Pada tabel di bawah terlihat bahwa kecenderungan kereaktifan gas mulia meningkat dari Kr ke Rn. Hal ini diperoleh dengan membandingkan kondisi yang diperlukan agar ketiga unsur dapat bereaksi dengan F2.

Unsur Reaksi dengan Fluorin (F2)
Kr Rekasi berlangsung jika diberi muatan listrik atau sinar X pada suhu yang sangat rendah (-196oC)
Xe Reaksi berlangsung jika diberi pemanasan atau penyinaran (sinar matahari atau sinar UV yang kuat)
Rn Reaksi berlangsung spontan

 

Namun demikian, kereaktifan Ar tidak bisa dibandingkan langsung dengan ketiganya karena unsur Ar masih belum dapat bereaksi langsung dengan Fluorin (F) melainkan dengan HF pada suhu sangat rendah. Akan tetapi, diduga Ar mempunyai kereaktifan mengikuti kecenderungan di atas. Hal ini di dukung data keteraturan sifat atomik gas mulia, yakni jari-jari atom yang bertambah dari Ar ke Rn, yang berarti elektron valensi semakin terikat lemah ke inti.

Kereaktifan bertambah / meningkat dari Ar ke Rn


 

Reaksi – Reaksi Gas Mulia

Ketika kita berbicara sifat kimia, maka kita sedang membicarakan tentang reaksi kimianya. Telah dijelaskan bahwa unsur-unsur gas mulia Ar, r, Xe, dan Rn dapat bereaksi dengan unsur-unsur yang sangat elektronegatif seperti F dan O. Simak beberapa reaksi gas mulia berikut:

Argon (Ar)

Reaksi: Ar(s) + HF → HArF (Argon Hidrofluorida)

HarF adalah senyawa Ar pertama yang disintesis sekitar tahun 2000. Senyawa ini dihasilkan oleh fotolisis HF dalam matriks Ar padat dan stabil pada suhu rendah. Kestabilan senyawa terletak pada energi yang dibutuhkan untuk memecah ikatan H-ArF yang lemah. Jika dipanaskan atau terjadi interaksi antar-molekul, molekul-molekulnya secara spontan dapat terurai kembali menjadi HF dan Ar.

Kripton (Kr)

Reaksi : Kr(s) + F2(s) → KrF2(s) (Kripton Fluorida)

Kr dan F2 direaksikan dengan cara mendinginkannya pada suhu -196oC, lalu diberikan loncatan muatan listrik atau sinar X.

Xenon (Xe)

Reaksi Xe menghasilkan Xenon fluorida:

  • Xe(g) + F2(g) → XeF2(s)
  • Xe(g) + 2F2(g) → XeF4(s)
  • Xe(g) + 3F2(g)berlebih → XeF6(s)

XeF2 dan XeF4 disintesis dengan memanaskan Xe dan F2 pada tekanan 6 atm. Jika jumlah pereaksi F2 berlebih, diperoleh XeF6.

Senyawa XeF2, XeF4, dan XeF6 adalah kristal stabil tak berwarna yang bersifat sangat reaktif

Reaksi Xe menghasilkan Xenon Oksida

XeF6(s) + 3H2O(l) → XeO3(s) + 6HF(aq) + 6XeF4(s) + 12H2O(l) → 2XeO3(s) + 4Xe(g) + 3O2(g) + 24HF(aq)

XeO3 (xenon trioksida) adalah padatan putih yang sangat eksplosif.

XeO4 (xenon tetraoksida) dibuat dari reaksi disproporsionasi yang kompleks dari larutan XeO3 yang besifat alkalin.

XeO4 adalah gas yang sangat tidak stabil dan bersifat eksplosif.

Radon (Rn)

Reaksi Radon yang menghasilkan Radon Fluorida

Rn(g) + F2(g) → RnF2

Reaksi berlangsung spontan

 

Demikianlah penjelasan mengenai sifat gas mulia.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *